Showing posts with label E-SABAK. Show all posts
Showing posts with label E-SABAK. Show all posts

Friday, January 24, 2020

Terbaik Solusi Sarana Pembelajaran E-Sabak Untuk Sekolah Di Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Dan Tertinggal)

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Pemerintah mengupayakan saluran pendidikan yang lebih gampang untuk sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Salah satu solusi sarana pembelajaran ialah memakai buku elektronik disebut Elektronik Sabak (E-Sabak). Diharapkan, ketimpangan saluran terhadap pendidikan yang berkualitas sanggup dikurangi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyampaikan, dengan solusi ini, akseptor didik di wilayah 3T sanggup mendapat pengetahuan dan warta yang sama dengan mereka yang tinggal di kota besar. Pihaknya, kata dia, menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan PT Telkom untuk menunjukkan layanan pendidikan ini. 

"Prioritas di kawasan perbatasan menyerupai Papua, Kalimantan, dan NTT. Selain itu, kawasan yang mempunyai indeks pembangunan insan rendah," katanya ketika menunjukkan keterangan pers di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (7/1/2015).

Hadir pada program Menkominfo Rudiantara, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Achmad Jazidie, dan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Hamid Muhammad.

Mendikbud mengatakan, ketika ini sudah terdapat sebanyak 1.200 siswa Sekolah Menengan Atas Terbuka yang memakai akomodasi tablet. Dengan akomodasi ini, kata dia, sanggup menekan biaya dan pada ketika yang sama meningkatkan kualitas. "Anak-anak hidup di dunia digital. Dunia pendidikan harus mengantisipasi," katanya.Menurut Mendikbud, solusi ini berbeda dengan buku sekolah elektronik (BSE) selama ini. Materi ajarnya, kata dia, dibentuk interaktif. "Bahan kuis juga sanggup dikembangkan lewat E-Sabak," katanya.

Menkominfo Rudiantara mengatakan, dari sisi jaringan internet sanggup dilakukan optimalisasi. Koneksinya, kata dia, tidak perlu harus ke Jakarta, tetapi sanggup dilakukan rerouting. "Fasilitas jaringan yang dimiliki oleh Kemdikbud ini juga sanggup dimanfaatkan oleh Kementerian lain menyerupai Kementerian Kesehatan untuk menghubungkan puskesmas-puskesmas di Indonesia," katanya.

Direktur Enterprise dan Business Service PT Telkom, Muhammad Awaluddin mengatakan, layanan berbasis teknologi warta dan komunikasi ini disediakan dalam satu paket layanan yang tidak terpisahkan ialah perangkat, jaringan, dan aplikasi. Dia menyebutkan, disediakan tiga alternatif jaringan ialah fix line, 3g, dan satelit (VSAT). "Tiga alternatif itu yang akan kita solusikan," katanya. (Sumber : http://kemdikbud.go.id)

Terbaik Penggunaan Sabak Elektronik (E-Sabak) Bentuk Efisiensi Distribusi Buku Pelajaran Sekolah

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Salah satu alasan pemerintah mengusung sabak elektronik (e-Sabak) sebagai alternatif pengganti buku pelajaran ialah efisiensi distribusi buku ke sekolah. 

Diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, biaya pengiriman buku baik di wilayah Jawa maupun luar Jawa sangat besar. “(dengan e-Sabak) kita sanggup mengefisienkan (biaya pengiriman) ini,” katanya pada telewicara dengan radio Elshinta, Jumat (9/01/2015).

Menteri Anies mengatakan, setiap anak akan menerima satu buah e-Sabak. Di dalamnya terdapat semua bahan yang akan dipelajari. 

Namun demikian, kata dia, penggunaan e-Sabak yang berbentuk peranti tablet,  akan dilakukan secara bertahap. Pertama, tablet ini gres akan menjadi buku elektronik saja. “Sehingga tablet itu pemanfaatannya masih sebatas sebagai buku atau e-book,” katanya.

Mendikbud mengatakan, setiap unit sabak yang diterima siswa tidaklah mereka beli. Ada jasa yang menunjukkan mereka derma penggunaan. "Jadi jikalau ada duduk kasus pun pemberi povider itu yang akan menuntaskan masalahnya," katanya.

Mendikbud mengatakan, dalam fase pertama ini e-Sabak belum tersambung dengan kemudahan internet. Materi yang ada di tablet itu ialah bahan yang dikirimkan atau ditransfer, biasanya kepada sekolah, melalui susukan eksklusif kemudian difungsikan di tablet tersebut. “Intinya ialah (e-Sabak) ini menciptakan familiar kita kepada penggunaan teknologi, dan secara sedikit demi sedikit menciptakan kita sanggup berguru memakai teknik-teknik yang lebih interaktif,” katanya.

Mendikbud menyadari hal ini bukan tanpa tantangan. Ia menambahkan, dalam memakai buku elektonik tersebut tidak hanya siswa yang harus belajar. Guru pun harus dilatih. Bahkan di tempat terdepan, terluar dan tertinggal (3T), kemudahan listrik ialah salah satu tantangan utama.

Untuk mendukung langkah ini, Mendikbud mengatakan, pemerintah sedang bekerja keras membangun fasilitas, baik infrastruktur ICT, maupun infrastruktur transportasi di daerah-daerah yang tidak terjangkau. “Meskipun kini listriknya belum memadai, kita masih banyak cara untuk generating electricity itu. Kita percaya ke depan niscaya akan punya kemudahan elektronik yang baik,” katanya. (Aline Rogeleonick)

Sumber artikel : Penggunaan Sabak Elektronik Bentuk Efisiensi Distribusi Buku – http://kemdikbud.go.id

Terbaik Balasan / Respons Masyarakat Terhadap Agenda Sabak Elektronik (E-Sabak)

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Program  Sabak elektronik menjadi upaya pemanfaatan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Alat yang dipakai sebagai sarana untuk memasukan buku teks pelajaran ke perangkat elektronik ini menuai banyak sekali respons dari masyarakat. Pro dan kontra menjadi bab dari respons tersebut. 

Melalui telewicara yang dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Radio Elshinta, Jumat (09/01/2015), masyarakat mengungkapkan pendapatnya.

Seorang warga Jakarta, Barselio, memberikan melalui pesan singkat yang disampaikan kepada Radio Elshinta. Ia mengatakan, ilham jadwal sabak elektronik ini bagus. Yang menjadi tantangan, kata dia, yaitu terkait listrik. Masyarakat yang berada di kawasan banyak yang belum mempunyai saluran listrik.

“Kebanyakan kawasan terpencil dan pesisir pantai tidak punya listrik dan jaringan internet, ini mohon sanggup menjadi perhatian khusus,” ujar Barselio. Masih melalui pesan singkat, warga yang berjulukan Suryanto menawarkan saran supaya pemerintah memastikan kembali keberadaan peraturan Menteri Keuangan mengenai pajak pertambahan nilai atau sewa kegiatan.

Beralih ke wilayah barat pulau Jawa, Feri dari Tangerang memberikan pendapatnya melalui telepon. Ia mengatakan, jadwal Sabak Elektronik yaitu jadwal yang konkret dan sangat maju. Di negara-negara maju, kata dia, sudah lebih dahulu diterapkan.

Feri berpendapat, jadwal ini sudah harus dimulai dengan menerapkannya terlebih dahulu di ibu kota. Karena kota besar sudah mempunyai infrastruktur yang memadai. “Penggunaan ini sanggup jauh lebih efisien dan lebih murah. Tetapi perlu diperhatikan mengenai anti spyware, untuk mengantisipasi andanya hacker dikala ujian,” ucap Feri.

G. Sebastian dari Jakarta juga memberikan pendapatnya melalui telepon. Ia mengatakan, jadwal Sabak Elektronik yang ingin dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) cukup bagus, dan terlebih dahulu akan dilakukan di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). “Kalau nanti di kawasan 3T sudah berhasil, berarti di kawasan yang lebih maju menyerupai Jakarta akan lebih berhasil juga. Kita harus optimis terhadap ide-ide yang bagus,” kata Sebastian.

Bambang, warga Cibubur, Jakarta Timur turut memberikan pendapatnya melalui telepon. Ia mengatakan, kalau masyarakat ingin anak-anaknya maju dan berakal maka harus melek teknologi. Tugas menteri, tuturnya, yaitu menciptakan kebijakan. “Kita hargai terlebih dahulu kebijakan tersebut,” tutur Bambang.

Selain melalui pesan singkat dan telepon, dalam telewicara tersebut masyarakat juga memberikan responnya terhadap kebijakan ini melalui sosial media, twitter. Salah satunya yaitu Asrori. Ia menyampaikan bahwa ia tidak oke dengan perihal penerapan jadwal Sabak Elektronik. Hal tersebut disampaikannya, alasannya di kawasan tempat tinggalnya belum terakses listrik.

Akun twitter lain, @utim_manis, mengatakan, tidak semua anak Indonesia paham terhadap penggunaan tablet, khususnya di kawasan pedalaman. Akun twitter @cats132011 mengatakan, bahwa tidak semua wali murid sanggup membeli tablet. Senada dengan akun twitter di atas, akun  @Kalijaga113 berpendapat  bahwa perlu diluruskan kembali mengenai listrik dan jenis tablet yang digunakan. Ia berharap supaya tidak memakai tablet yang sulit digunakan.

Terkait kendala yang dikemukakan masyarakat, Mendikbud Anies Baswedan sudah menyadari hal ini bukan tanpa tantangan. Ia menuturkan, dalam memakai buku elektronik tersebut tidak hanya siswa yang harus belajar. Guru pun harus dilatih. Bahkan di kawasan terdepan, terluar dan tertinggal (3T), akomodasi listrik yaitu salah satu tantangan utama.

Untuk mendukung langkah ini, Mendikbud mengatakan, pemerintah sedang bekerja keras membangun fasilitas, baik infrastruktur ICT, maupun infrastruktur transportasi di daerah-daerah yang tidak terjangkau. “Meskipun kini listriknya belum memadai, kita masih banyak cara untuk generating electricity itu. Kita percaya ke depan niscaya akan punya akomodasi elektronik yang baik,” katanya.


Thursday, January 23, 2020

Terbaik Buku Pelajaran Sekolah Akan Diganti Tablet

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Pelajar di banyak sekali negara sudah memanfaatkan tablet sebagai buku pelajaran mereka. Fasilitas ini akan segera dinikmati juga oleh pelajar Indonesia. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berencana memakai tablet sebagai alat bantu kegiatan berguru mengajar. Buku untuk menulis akan tetap memakai kertas, tablet hanya akan digunakan sebagai media penyimpan materi pelajaran.

Menyangkut acara pembelajaran, lanjut Anies, ada lebih dari 50 juta anak bersekolah di seluruh Indonesia. Mereka diajar oleh lebih dari tiga juta guru. 

Menurut Anies, buku yaitu alat didik yang penting dalam kegiatan berguru mengajar. "Salah satu tujuan dari penggunaan tablet yang dinamai E-Sabak ini yaitu untuk menekan biaya. E-Sabak diadopsi dari media pembelajaran sabak yang dulu digunakan masyarakat untuk menghemat kertas," ujar Anies di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (7/1/2015).

Selain menghemat kertas, penggunaan E-Sabak juga sanggup menjaga kualitas buku alasannya yaitu tidak dipengaruhi faktor lain menyerupai kertas, distribusi atau kerumitan logistik. E-Sabak juga dirancang untuk bersifat interaktif, contohnya dengan memperlihatkan bahan-bahan kuis kepada guru-guru. "Intinya yaitu jika kemarin medianya bebas ditentukan di hilir, kini di tablet jadi materinya lebih kaya," ujar Anies.

Selain planning penggunaan tablet sebagai buku teks di sekolah, Kemendikbud juga membahas kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan info (Kemenkominfo), Kementerian Pariwisata serta PT Telkom ihwal layanan internet untuk kawasan 3T dan layanan email untuk sekolah, guru dan siswa. Kerjasama antarkementerian ini penting mengingat Kemendikbud mempunyai jaringan yang sangat luas, yaitu 208 ribu sekolah di Indonesia.

"Ada komunikasi untuk acara pembelajaran, jaringan yang amat luas ini keuntungannya lebih besar. Ketimpangan saluran pendidikan berkualitas sanggup kita kurangi, sehingga sekolah yang di 3T ini sanggup mendapat kualitas pengetahuan info yang sama dengan di kota besar," imbuh Anies. (rfa - http://news.okezone.com)